SEORANG pemuda yang baru menikah tinggal menumpang di rumah mertuanya. Saat tinggal bersamanya, ia demikian kesal dengan ibu
mertuanya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel, bossy, angkuh, dan lain sebagainya,,, gak ada baiknyalah.
Setelah dua tahun, baginya cukup sudah
penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhirinya, dengan merencanakan
membunuh ibu mertuanya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi seorang dukun yang paling sakti di daerahnya.
Ia bercerita dengan penuh kegeraman, sang Dukun hanya tersenyum dan
mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun
adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit
demi sedikit selama 60 hari, di saat memberikan ia diharuskan bersikap
manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk
membuat si mertua supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran,
hari demi hari ia mulai meracuni si mertua, tentunya dengan sikap manis,
tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari
mulutnya. Perlahan tapi pasti ia mulai melihat perubahan pada
mertuanya.
Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu
bulan ia meracuni mertuanya, kelakuan mertua ini justru berubah menjadi
demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia
mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti
akibat awal dari racun itu, adanya perubahan sikap sebelum
akhirnya meninggal, ehmmm,,! Mendekati hari ke-40 sikap mertua semakin baik dan
hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum kopi di pagi
hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku mertua
yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.
Puncaknya
pada hari ke-50 mertua memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan
di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan
diseterika oleh si mertua. Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai
memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada
hari ke-57, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat
perubahan si Ibu mertua yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya
pergilah ia ke Dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan
rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang
pernah diberikan sang dukun padanya.
Dengan senyum bijaksana
bak malaikat, dukun itu berkata “heheeee,,,selamat kamu berhasil anak muda. janganlah berburuk sangka, menganggap semua sikap dan perbuatan selalu benar. Cairan yang kuberikan padamu dulu itu
bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap mertuamu
yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG
TERLEBIH DAHULU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU
SENYUM PADANYA.”
***
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil
dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah
sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau
mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Ketiga, tidak semua
‘Dukun’ salah. Kita juga harus jadi ‘Dukun’ kalau sukses belajar yakni
‘Duduk dengan tekun’. Keempat: Selamat mencoba,,,!!!
Thursday, November 13, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment