Social Icons

Wednesday, November 26, 2014

Pesan Singkat Bung HATTA

Siapa yang tak kenal Dr. Muhammad Hatta di penjuru Indonesia. Beliau yang ikut memproklamasikan keMerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno pada tanggal 17-Agustus-1945, dan menjabat sebagai Wakil Presiden RI pertama. Beliau aktif dalam memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di luar negeri antara lain memimpin delegasi Indonesia ke Konferensi Meja Bundar di Den Haag , pada bulan Agustus - November 1949 sekaligus menerima penyerahan Kedaulatan RI dari pemerintah Belanda yang diwakili, Ratu Juliana pada tanggal 27 Desember 1949.


Beliau meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Bersama Ir. Soekarno, Bung Hatta diberi gelar sebagai Pahlawan Proklamasi.
Indonesia berduka, hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi -"Ngutil syair Bang Iwan"-. Merah Putih pun meratap langit berkibar stengah tiang. Beliau meninggalkan Indonesia mewariskan KeMerdekaan Negeri ini untuk seluruh Rakyat Indonesia,


Di sini saya akan berbagi beberapa pesan singkat beliau dalam karya tulisnya, untuk kita generasi muda INDONESIA. Berikut beberapa penggalan kalimat. Beliau ;

"Biarlah pengalaman masa lalu kita menjadi tonggak petunjuk, dan bukan menjadi tonggak yang membelenggu kita"

"Tidak ada harta pusaka yang sama berharganya kejujuran"

"Membaca tanpa merenungkan itu bagaikan makan tanpa di cerna"

"Selama dengan buku, kalian boleh memenjarakanku di mana saja, karen dengan buku  aku merasa bebas"

"Keberanian bukan berarti tidak takut, Keberanian berarti menaklukkan ketakutan"

”Betul, banyak orang yang bertukar haluan karena penghidupan, istimewa dalam tanah jajahan di mana semangat terlalu tertindas, tetapi pemimpin yang suci senantiasa terjauh daripada godaan iblis itu”

 “Memang benar pepatah Jerman: Der Mensch ist, war es iszt, artinya “sikap manusia sepadan dengan caranya ia mendapat makan”

“Berpuluh-puluh pemimpin kita yang meringkuk dalam bui sengsara dalam pembuangan di Boven Digul, dengan tiada mempunyai pengharapan akan kembali lagi. Berapakah diantara saudara-saudara yang masih kenal akan nama-nama mereka?”

“pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”

“Untuk mencapai cita-cita yang tinggi manusia (pahlawan) melepaskan nyawanya pada tiang gantungan, mati dalam pembuangan, tetapi senantiasa menyimpan dalam hatinya yang luka wajah tanah air yang duka”

“Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya…Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokkan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakkan daerah” (tahun 1962)

“saya menyebut satu nama yang patut menjadi kenang-kenangan buat selama-lamanya: Tjipto Mangunkusumo, yang meninggal kemaren pagi dalam usia 58 tahun. Sejarah hidupnya mudah diterangkan dengan beberapa kata saja: jujur, setia, ksatria, berjuang, berkorban, pembuangan, penyakitan” (didalam Surat Bung Hatta)

"Demokrasi dapat berjalan baik, jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki, membuka jalan untuk lawannya: diktator”

No comments:

Post a Comment